Mengapa pendidikan etika profesi diperlukan dalam bidang keteknikan?
Kelompok profesional merupakan kelompok yang berkeahlian dan berkemahiran yang diperoleh melalui proses pendidikan dan pelatihan yang berkualitas dan berstandar tinggi yang dalam menerapkan semua keahlian dan kemahirannya yang tinggi itu hanya dapat dikontrol dan dinilai dari dalam oleh rekan sejawat, sesama profesi sendiri. Kehadiran organisasi profesi dengan perangkat “built-in mechanism” berupa kode etik profesi dalam hal ini jelas akan diperlukan untuk menjaga martabat serta kehormatan profesi, dan di sisi lain melindungi masyarakat dari segala bentuk penyimpangan maupun penyalah-gunaan kehlian (Wignjosoebroto, 1999).
Oleh karena itu dapatlah disimpulkan bahwa sebuah profesi hanya dapat memperoleh kepercayaan dari masyarakat, bilamana dalam diri para elit profesional tersebut ada kesadaran kuat untuk mengindahkan etika profesi pada saat mereka ingin memberikan jasa keahlian profesi kepada masyarakat yang memerlukannya. Tanpa etika profesi, apa yang semula dikenal sebagai sebuah profesi yang terhormat akan segera jatuh terdegradasi menjadi sebuah pekerjaan pencarian nafkah biasa (okupasi) yang sedikitpun tidak diwarnai dengan nilai-nilai idealisme dan ujung-ujungnya akan berakhir dengan tidak-adanya lagi respek maupun kepercayaan yang pantas diberikan kepada para elite profesional ini.
Tampilkan postingan dengan label wignjosoebroto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wignjosoebroto. Tampilkan semua postingan
Selasa, 04 Mei 2010
Etika Profesi
Label:
ABET,
etik,
etika,
Hak Cipta,
HAKI,
industri,
kode,
mata kuliah,
Paten,
profesi,
teknik,
Trademark,
wignjosoebroto
Sabtu, 10 Oktober 2009
Peta-Peta Kerja
Pada tahun 1947, American Siciety of Mechanical engineers (ASME) membuat standar lambang-lambang peta kerja sebanyak 5 lambang. Lambang-lambang yang digunakan adalah sebagai berikut:
Kegiatan operasi terjadi apabila suatu obyek (material) akan mengalami perubahan sifat (baik fisik maupun kimiawi) dalam suatu proses transformasi. (Wignjosoebroto, 1992).
Suatu kegiatan pemeriksaan terjadi apabila benda kerja atau peralatan mengalami pemeriksaan baik untuk segi kualitas maupun kuantitas. Contoh pekerjaannya memeriksa ukaran, memeriksa hasil solder, dan sebagainya (Sutalaksana, 2006).
Label:
asme,
delay,
gabungan,
kerja,
lambang,
mata kuliah,
menunggu,
menyimpan,
mesin,
operasi,
pekerja,
pemeriksaan,
peta,
sutalaksana,
transportasi,
wignjosoebroto
Langganan:
Postingan (Atom)
